Jumat, 02 Mei 2008

chairil

Tahun 1943 kesusastraan Indonesia dikejutkan oleh panyiar muda Cahiril Anwar. Dia seperti bom di tengah-tengah ketenangan. Sajak-sajaknya baik bentuk maupun isinya revolusioner, membawa perubahan radikal sekaligus. Waktu itu umur Chairil Anwar baru 20 tahun (Toda. 1984).

Nisan
(untuk nenenda)

bukan kematian benar menusuk kalbu
keridlaanmu menerima segala tiba
tak kutahu setinggi itu atas debu
dan duka maha tuan bertahta

(1942)

Sajak Nisan ini oleh para kritikus disepakati sebagai sajak pertama Chairil. Sebuah sajak pendek yang sebenarnya menguraikan secara panjang lebar tentang “nasib” manusia. Maut demikian menusuk kalbu menuntaskan keperkasaan manusia, sebagai makhluk unggul yang mampu meluaskan eksistensinya dalam kebudayaan yang tinggi di antara sesama makhluk penghuni bumi.

Tapi, manusia agung itu ternyata tak memiliki keistimewaan dibandingkan debu sekalipun, tak kutahu setinggi itu atas debu. Maut mengakhiri daya tahan manusia itu. Tapi Chairil terpukau oleh jenis kemampuan lain yang ditunjukkan seorang manusia yang sudah tak berdaya, nenenda, yang mampu menerima kematian secara ikhlas, keridlaanmu menerima segala tiba.

Begitu ringkas dan tuntas, empat larik puisi menggambarkan secara gamblang perjalanan umat manusia di tengah kefanaan, dan duka maha tuan bertahta. Begitu langsung, empat larik puisi dipadatkan sedemikiran rupa, untuk menyampaikan berbagai gagasan atau cakrawala pemikiran tentang hidup, maut, nasib, hubungan darah, keluasan kasih sayang, dan rasa kehilangan yang dalam atas orang-orang terkasih ‘“ tanpa harus diterakan lagi sebagai rangkaian diksi atau kata-kata puisi secara panjang lebar.

Hal ini hanya dapat dikonkretkan, karena adanya kesadaran penuh pada Chairil ‘“ ingin menjadikan diksi pada puisi-puisinya sebagai tesis atau kebenaran itu sendiri. Penyair bagi Chairil adalah penemu, penguasa, pengolah, pelegitimasi diksi (kata), sejauh hubungan apa pun yang paling mungkin dilaksanakan untuk menegaskan makna tertentu yang mau disampaikan.

Kata adalah kepenyairan bagi Chairil. Dan kepenyairan tidak ada tanpa keunikan pengoperasian kata. Seorang penyair hanya dapat diukur oleh keberhasilannya menguasi dan memproduksi kata yang khas. Tanpa kerja keras dan keunikan, kata-kata yang terurai tak akan berbeda dengan rangkaian kata-kata umum yang telah memasyarakat sebagai bahasa awam. Sementara seorang penyair adalah seorang pengguna bahasa yang menolak menjadi awam.

Dan kecermatan menimbang, memilih untuk tiba pada kepastian (diksi) kata, yang kelihatannya berpangkal pada wawasan estetik Chairil Anwar kemudian ikut dipraktekkan oleh Asrul Sani, Rivai Apin, Sitor Situmorang, AS Dharta, dll. Seperti disinggung Artati Sudirdjo, pada 1949, “mulanya sajak-sajak Chairil bersifat individual, khas dirinya seorang, tapi kemudian penyair-penyair muda lain mengenal dan mewujudkannya dalam sajak-sajak mereka.”

Sementara Aoh K Hadimadja, pada 1952, melukiskan perbedaan generasi Chairil Anwar, Angkatan 45, dengan generasi sebelumnya, Pujangga Baru, yang dimotori Sutan Takdir Alisyahbana. “Beribu kilometer jaraknya antara Angkatan 45 dengan Pujangga Baru. Pujangga Baru yang menanti ilham, Angkatan 45 yang penuh kegiatan mencari jauh dari tapal batas tanah air, hingga hasilnya pun, manusia universum, tidak dibatasi daerah dan waktu.”

Aoh melihat kegiatan berpuisi pada Angkatan 45 adalah kerja arsitektural yang sungguh-sungguh, jauh dari peluapan emosi sebagaimana terjadi pada pembuatan sajak-sajak remaja. “Sebelum perang orang mengakui sajak sedih teringat kampung halaman adalah hasil seni. Kini curahan demikiran tak mungkin mendapatkan tempat lagi dalam dinamika kebudayaan. Seni yang menyeret kesedihan tidak mendapatkan penghargaan lagi, karena manusia baru mencari-cari jalan keluar dari kekacauan pikiran dan kelesuan semangat. Kesenian seperti berubah menjadi kekuatan.”

Sedangkan Chairil Sendiri menilai Pujangga Baru dengan kata-kata, Pujangga Baru selama semibilan tahun memperlihatkan corak, tidak seorang pun dari majalah tersebut sampai pada perhitungan, kecuali sajak-sajaknya Amir Hamzah.” Chairil menegaskan bahwa sebagai seniman, seseorang harus mempunyai ketajaman dan ketegasan dalam menimbang dan memutus, agar setiap kata dipikirkan dan direnungkan dengan tenang. Bahwa tidak semua yang menggetarkan kalbu, adalah wahyu yang sebenarnya.

Seorang penyair harus menimbang, memilih, mengupas, dan kadang-kadang sama sekali membuang. Sudah itu baru mengumpulsatukan. Pikira paling berpengaruh dalam sebuah kerja kesenian bermutu tinggi. Jika kerja setengah-setengah, bercampur-baur emosi dan fantasi, maka yang muncul adalah sebuah karya inproviasi. Dan sebuah hasil kerja seorang improvoitasator terbesar sekalipun, tak setinmggi mutu kesenian yang sungguh-sungguh.

Sebab keindahan kesenian hanya lahir dari pertimbangan, keseimbangan, perpaduan, dari segala getaran-getaran hidup, yang muncul menyeruak dalam kesadaran para seniman yang memiliki keberanian hidup, vitalitas menjelajahi berbagai kemungkinan pemikiran, bahkan mengambil gambaran ronsen sampai ke putih tulang belulang kemanusiaan.

Akibat dari kecermatan menimbang, memilih kepastian kata dalam sajak, menimbulkan pemadatan isi dan kesingkatan bentuk, dan kata pun menjadi monumental, menjadi K besar. Peranan otak dan intuisi nampak besar, seakan-akan membuktikan kebenaran penyair Elisabeth Drew tentang penyair sebagai seorang yang “merasakan pikirannya, memikirkan sensasi-sensasi perasaanya”.

Sajak-sajaknya umumnya pendek-pendek, merangkum ekspresi manusia dalam M besar, dengan ideologi yang coba dijabarkan dalam Surat Kepercayaan Gelanggang (1950), di antaranya: Kami adalah ahli waris yang sah dari kebudayaan dunia, dan kebudayaan ini kami teruskan dengan cara kami sendiri. Kami lahir dari kalangan orang banyak dan pengertian rakyat bagi kami adalah kumpulan campur baur dari mana dunia-dunia baru yang sehat dilahirkan…

Arie MP Tamba

Sumber : Jurnal Nasional, 30 Maret 08

setengah abad sang penyair

Beragam penilaian terus mengiringinya menembus waktu. Dunia sekolah dan perguruan tinggi, seperti enggan mengakhiri apresiasi atas karyanya.

Bertahun-tahun kemudian, ketika waktu berdentang pada setengah abad lebih kematiannya, orang tetap mengenang Chairil Anwar. Bagai sebuah dunia tanpa koma, berpuluh tahun setelah ruh terpisah dari raga, karya ”binatang jalang” itu terus diapresiasi, entah dalam bentuk esai, forum diskusi, deklamasi, skripsi, film, dll.

Chairil penyair terkuat di Indonesia yang hingga saat ini belum ada bandingannya, kata penyair sekaligus pendiri teater anak-anak Teater Tanah Airku, Jose Rizal Manua. Sehingga, walaupun bermunculan banyak penyair hebat, namun menurut Jose, Chairil telah memiliki lapak tersendiri. “Seperti Shakespeare yang telah memilki tempat tersendiri meskipun muncul penyair besar lainnya,” kata Jose saat dihubungi Jurnal Nasional.

Ia mengatakan, Chairil adalah salah seorang penyair Indonesia terkemuka yang menemukan bahasa. “Semangat dari puisinya memiliki personality sangat kuat, sehingga menggugah semangat untuk berontak,” ujar Jose.

Bagi Jose, individulitas dan pemberontakan dalam karya Chairil, menggugah semangat kepahlawanan untuk melawan penjajah. “Yang membuat saya berdecak, bagaimana karya Chairil bisa lolos dari sensor Jepang, padahal dia mengkritisi penjajah,” papar Jose.

Sekali berarti sudah itu mati

Pria kelahiran Padang 14 September 1954 ini mengacungkan dua jempol terhadap kepiawaian Chairil dalam memilih kata. “Seperti sekali berarti, setelah itu mati atau aku ingin hidup seribu tahu lagi, itu nggak ada yang menemukan kecuali Chairil,” tutur peraih juara pertama Festival Teater Anak-anak Dunia ke-9 di Lingen, Jerman ini.

Kata-kata Jose diamini Dosen Fakultas Sastra Universitas Indonesia Ibnu
Wahyudi. Ia melihat Chairil dengan kesadaran yang amat jelas menempatkan kata-kata dalam berpuisi, bukan dalam kata-kata untuk kepentingan sehari-hari. “Jika orang biasa menuliskan hari ini, Chairil memilih menuliskan ini hari,” papar Ibnu.

Kesadaran mengolah kata pada Chairil itulah yang dianggap Ibnu luar biasa. “Dari karya-karya Chairil, tercermin wawasannya yang sangat luas, pada zaman itu jarang sekali orang yang bacaannya sebanyak Chairil,” kata penulis kumpulan puisi Masih Bersama Musim ini.

Pertanyaan yang muncul, apa yang membuat karya Chairil dapat memborong seluruh perhatian masyarakat sastra? Menurut Jose, apresiasi kepada semua penyair baik, hanya saja jumlah peminat puisilah yang kelihatannya tidak bergeser. “Tidak makin banyak, tetap mempunyai komunitas yang terbatas,” ujar Jose.

Jose melihat, kenyataan itu pada hampir seluruh negara berkembang di dunia. Berbeda dengan negara maju, di mana kesadaran akan sastra sudah tinggi, lanjutnya. “Mereka membaca karya sastra, membaca puisi di dalam bis, di kamar, di rumah, kalau kita hanya orang tertentu yang melakukan itu,” tutur lulusan Institut Kesenian Jakarta tahun 1986 ini.

Tak bisa dipungkiri, lanjut dia, sastra adalah lingkungan yang terabaikan, dunia yang seolah-olah sunyi dan hening, sehingga orang orang di dalamnya tak bisa berinteraksi dengan nyaman. Berbeda dengan yang ditawarkan oleh dunia musik, hingar bingar. “Puisi adalah dunia yang mengajak kita sendiri, berkontemplasi, nah itu bukan dunia yang banyak disukai anak muda.”

Jose juga mengagumi apa yang ditulis Chairil sebagai sesuatu yang amat manusiawi, rasional dan tidak terlalu genit. Menelisik lebih lanjut, karya Chairil dianggap begitu membumi dan mudah dipahami. Menurut Jose, itu menjadi salah satu alasan, mengapa kemudian karyanya banyak diapresiasi. “Banyak penyair hebat muncul, namun kemudian karyanya sulit dipahami, sehingga sulit ditangkap masyarakat awam yang tidak punya apresiasi terhadap puisi,” kata Jose.

Sedikit dosen melek sastra

Dari sudut lain Ibnu melihat “kecanduan” kampus terhadap karya Chairil tidak terlepas dari kondisi yang diciptakan oleh pengajar sastra di Indonesia itu sendiri. “Kita harus sedih, belum semua pengajar sastra melek sastra,” kata Ibnu.

Pria yang pernah menjadi dosen tamu di Hankuk University of Foreign Studies, Seoul, Korea Selatan ini berpandangan, masih sedikit dosen sastra yang mau mengembangkan dirinya. “Entah itu dengan memperkaya bacaannya, selain yang diperoleh di bangku kuliah,” ujar Ibnu.

Dampak dari itu semua, kata Ibnu, yang dikenal hanya itu-itu saja, padahal masih banyak penyair Indonesia yang belum dibicarakan. “Saya kira ada masalah dengan pengetahuan yang kurang luas dari dosen sastra, sehingga mahasiswanya tidak diarahkan untuk menulis yang lain,” tuturnya.

Tetapi Ibnu tak melihat “kecanduan” berlebih terhadap karya Chairil sebagai sebuah kenyataan dunia kampus saat ini. Bahkan, di UI Jakarta, katanya, Chairil malah sudah jarang dipergunjingkan, karena sudah terlalu banyak. “Kecendrungan mahasiswa malah mengambil pengarang yang sama sekali belum dikenal tapi dia mengarang ditahun 50-60an,” kata Ibnu.

Ia berpendapat, Chairil tetap dihormati sebagai seorang penyair yang dalam konteks tahun 1940-an boleh dibilang hampir tidak ada saingan. “Tetapi pada zaman sekarang jauh lebih banyak penyair yang secara tematik maupun linguistik pencapaiannya melebihi Chairil,” ujar Ibnu.

Pemimpin Redaksi Majalah Horison Jamal D Rahman membedah dengan pisau yang berbeda. Menurutnya, posisi Chairil sebagai penyair paling banyak dibaca oleh para siswa, tak lepas dari peran HB Jassin yang begitu gencar memperkenalkan karya-karya Chairil. “Siswa membaca Chairil sejak di bangku SMP hingga perguruan tinggi,” kata Jamal.

Namun, Jamal memiliki dugaan kuat tak semua karya Chairil dilahap oleh para siswa, hanya sebagian seperti Karawang-Bekasi dan Aku. Sementara yang lain tak begitu dikenal, ujarnya.

Dari perkenalan dengan Chairil melalui karyanya, kata Jamal, para siswa diharapkan dapat menyerap semangat sang penyair, entah itu melalui pelajaran maupun melalui lomba-lomba. “Selanjutnya tinggal mengambil apa yang bisa diambil setelah mengenal Chairil,” tutur Jamal.

Karya Chairil, kata Jamal, sangat relevan dengan keadaan saat ini baik untuk para penyair maupun untuk masyarakat awam. Bagi penyair, Chairil, lanjut dia, adalah sosok yang paling sukses mendobrak tata nilai tradisional dengan memasukkan nilai-nilai Barat. “Chairil menanamkan sebuah rasionalisme, ia memiliki apatisme fantasi yang mengagumkan dalam berkarya.”

Sementara bagi masyarakat awam, Jamal menggambarkan optimisme Chairil menjalani kehidupan sosial di tahun 1940-an yang dianggap Jamal lebih keras dari kondisi saat ini. “Belum lagi kondisi permasalahan pribadi Chairil, tapi dia tetap memandang hidup dengan optimis,” ujar Jamal.

Keoptimisan seorang Chairil, menurut Jamal tercermin dari puisi-puisinya seperti Aku dan Bung Karno. Keoptimisan Chairil sedikit melayu ketika ia berbicara tentang kematian di penghujung hayatnya. “Yang penting bagaimana kita bisa mengenal relevansi karya Chairil dengan realita sosial,” tandas Jamal.

Grathia Pitaloka

Sumber : Jurnal Nasional, 30 Maret 08

saksi hidup kamp konsentrasi

Novelis, esais, penerjemah dan pemenang Nobel Sastra 2002 ini berasal dari Hungaria. Dalam sebuah karya semiotobiografi Kertesz (1929 - ) mencoba menganalisa berbagai pengalaman hidupnya yang berlangsung selama dalam kamp konsentrasi Jerman, Holocaust. Namun, karya-karya awalnya sendiri lebih banyak berkutat dengan masalah eksistensial manusia sebagai sebuah persoalan hidup yang sukar, dengan gaya yang berat diikuti.

“Auschwitz akan terus bergantung di udara, dalam jangka waktu lama, berabad-abad, mungkin seperti buah yang membusuk dengan perlahan, bersama surutnya cahaya matahari, menunggu akhirnya terjatuh menimpa kepala.” (Kaddish for a Child not Born, 1990).

Imre Kertesz lahir di Budapest dari keluarga keturunan Yahudi. Mengacu ke sebuah kisah, pada usia 10 tahun ia pernah mendapatkan sebuah buku catatan harian, tapi halaman-halaman putihnya ternyata menakutkannya. Pada masa mudanya ia sendiri memang mengalami horor yang sesungguhnya dari masa pemerintahan Nazi. Jerman menduduki Hungaria pada 1944 dan mulai melakukan pembasmian kepada orang Yahudi dan Gypsi.

Kertesz termasuk dalam 7000 orang Yahudi yang dideportasi dari Budapest ke Auschwitz dan selanjutnya dikirim ke Buchenwald. “Saya bukanlah seorang penganut kepercayaan Yahudi,” kata Kertesz dalam sebuah wawancara. “Tapi saya adalah Yahudi yang pernah ditahan di Auschwitz.” Di dalam pembuangan itu Kertesz menyadari sepenuhnya bagaimana ia bisa mati di mana dan kapan saja. Persoalan eksistensial demikian mencekamnya sebagai seorang penulis.

Pada 1945 Kertesz dibebaskan oleh pasukan sekutu. Setelah kembali ke Hungaria, ia kemudian bekerja sebagai seorang wartawan untuk Vilagossag, sebuah koran Budapest. Ketika koran tersebut dikuasai oleh sebuah partai Komunis ortodoks, Kertesz dipecat. Antara tahun 1951 dan 1953 Kertesz memasuki dunia militer, lalu kemudian memusatkan seluruh perhatiannya ke dunia tulis-menulis.

Pada masa pemberontakan Hungaria tahun 1956, lebih dari 200.000 orang Hungaria memilih hidup di Barat. Dunia sastra Hungaria pun mengalami kelumpuhan sampai tahun 1963. Sebagai seorang penulis bawah tanah dalam rezim Komunisme yang memberangus kemerdekaan berpikir, Kertesz menghidupi dirinya sebagai seorang penerjemah, dengan spesialisasi karya-karya penulis Jerman seperti Hugo von Hofmannsthal, Elias Caneti, Joseph Roth, dan Arthur Schnitzler.

Namun, ia juga tak melewatkan kesempatan untuk menerjemahkan karya-karya Friedrich Nietzsche, Sigmund Freud, dan Ludwig Wittgenstein yang ternyata semakin memperkuat daya kepengarangannya. Sambil sesekali, ia menulis pula naskah teater.

Kertesz tidak mempunyai mesin ketik. Ia selalu mulai menulis dengan tulisan tangan, memakai pinsil maupun bolpoin.

Kertesz tidak pernah tergabung dalam organisasi kepenulisan dan tak pernah mendapatkan keistimewaan apa pun dari pemerintah. Bersama istrinya, ia hidup di sebuah flat sederhana, dan menghabiskan hari-harinya di ’penjara menulis’-nya tanpa ada harapan akan mendapatkan penerbit.

Di sebuah kolam berenang, di mana ia biasa berdiskusi dengan beberapa temannya tentang sastra dan politik, ia berenang hampir setiap hari selama 40 tahun. Di antara novel-novel modern, Kertesz paling tertarik dengan karya Albert Camus The Stranger (1942), yang didapatkannya pertama kali dari sebuah toko buku loak.

Buku pertama Kertesz, Sorstalansag (1975), mengisahkan pengalaman hidup seorang remaja 15 tahun di kamp konsentrasi. Kertesz tidak menyatakan bahwa novel ini adalah kisah pribadinya. Namun, dalam sebuah wawancara ia pernah mengatakan, bahwa ia sesungguhnya tak pernah berniat menuliskan pengalaman hidupnya sendiri.

Sorstalansag sudah selesai ditulis pada 1965, tapi baru berhasil mendapatkan penerbitan terbatas 10 tahun kemudian. Karya ini kurang mendapatkan pembicaraan, boleh jadi karena temanya, tentang deportasi yang dialami orang-orang Yahudi, yang merupakan sebuah lembaran sejarah kelam negera Hungaria sendiri.

Tapi novel ini kemudian menjadi bagian dari trilogi, yang dilanjutkan dengan kudarc (1988), dan Kaddis a meg nem szuletetett gyermekert (1990, Kaddish for a Child not Born), yang ditulis dengan teknik stream of concoiusness. Tokoh utamanya adalah seorang pria setengah baya yang selamat dari Holocaust, yang sedang menempuh karier sebagai seorang penulis yang tidak berhasil. Perkawinannya gagal dan bekas istrinya kemudian berhasil membentuk sebuah rumah tangga baru dan mempunyai anak. Peristiwa Auschwitz benar-benar membuat si tokoh cerita menjadi figur seorang ayah, yang selalu mengatakan kepada teman-temannya – tidak pernah berniat menjadi ayah – di sebuah dunia yang mampu melahirkan sebuah bencana seperti Auschwitz.

Seorang remaja yang menjadi saksi hidup dari penyiksaan fisik di kamp konsenstrasi Sorstalansag mengatakan, “sesungguhnya kami hanya dapat bertahan bersama sisa-sisa imajinasi kami tentang masa lalu. Saya dapat langsung, misalnya, merasakan kemerdekaan hanya dengan menyibukkan diri dengan sekop dan beliung – sebagai upaya modern untuk mempertahankan keberadaan sendiri hanya dengan sebuah gerakan.”

Yang lolos dari Holocaust di A Kudarc adalah alterego Kertesz, bernama Gyorgy Koves, yang hidup di bawah sebuah negara totaliter. Ia menyelesaikan novel pertamanya, sebuah kisah tentang Auschwitz, yang meski sempat dikembalikan penerbit, namun ia lanjutkan buku keduanya. “Saya ingin menghilang dari masa kini tapi masa lalu selalu menahan saya,” katanya. Namun ketika terjadi krisis di Hungaria yang menimbulkan pemberontakan, anehnya ia tak memilih pergi ke Barat, melainkan tetap memilih tinggal di Hungaria.

Alasannya tetap tinggal adalah karena pikiran, bahwa ia juga terlalu tua untuk mempelajari bahasa negeri lain. Seorang pengarang pernah berkata bahwa kekurang mampuan berbahasa adalah satu-satunya ekspresi seorang diktator. Dalam penelitiannya tentang Auschwitz dari konteks sejarah dan politik, Kertesz mengikuti cara berpikir kaum intelektual sosialis Eropa, yang menyembunyikan tulisan mereka tentang totalitarianisme yang kini menjelma sebagai Nazisme. Tapi Kertesz tidak dapat dipahami tanpa situasi kamp konsentrasi. Bahwa neraka dunia tidak lahir dari kecelakaan, melainkan muncul dari kumpulan perilaku rasional individu.

Pada awal 1980-an Kertesz masih menjadi seorang penulis yang tidak begitu terkenal di negerinya. Ia tidak dimasukkan ke dalam A History of Hungarian Literature yang dieditori oleh Tibor Klaniczay (1983), dan Lorant Czigany hanya menyinggungnya sedikit di dalam The Oxford History of Hungarian Literature (1984). Namun sejak ‘revolusi kebisuan’ pada 1989, karya-karya Kertesz segera mendapatkan perhatian dunia internasional. Buku-bukunya diterjemahkan ke berbagai bahasa, di antaranya Prancis, Swedia, Jerman, dan Inggris. Kertesz pun dimasukkan ke dalam Organisasi Penulis Hungaria, tapi ia kemudian mengundurkan diri dan protes, karena organisasi itu mengeluarkan pernyataan Anti-Semit. Seorang penyiar yang juga pejabat pemerintahan dan partai, Sandor Csoori, menulis di sebuah jurnal sayap kiri, “Penulis Liberal dan Yahudi Hungaria mulai beradaptasi dengan persoalan pemikiran dan kehidupan Hungaria.”

Pada 1990-an Kertesz mempublikasikan beberapa novel dan juga kumpulan esai. Sebuah esainya pernah mengomentari karya Steven Spielberg, Schindler’s List sebagai kisah murahan. Bagi Kertesz, trauma kamp konsentrasi bukanlah persoalan Yahudi dan Jerman semata, melainkan persoalan keseluruhan kehidupan sipil di Eropa. Setelah mendapatkan hadiah Nobel Sastra, pada 2003, karya-karyanya kemudian mengilhami orang-orang yang lolos dari kamp konsentrasi untuk mengungkapkan pengalaman mereka.

Bersama istri keduanya Magda Kertesz, Kertesz kini lebih banyak menghabiskan waktunya di Jerman, dengan menulis dan mengajar sastra. Magda telah meninggalkan Hungaria pada 1956. Ia hidup di Chicago selama 33 tahun sebelum kembali ke Eropa, di mana keduanya kemudian kembali bersatu.

Kutipan

Kertesz tidak dapat dipahami tanpa situasi kamp konsentrasi. Bahwa neraka dunia tidak lahir dari kecelakaan, melainkan muncul dari kumpulan perilaku rasional individu.

Sumber : Jurnal Nasional/ 07 April 08